Lokatulis Penyusunan Program WGBP

Lokatulis Penyusunan Program WGBP dilaksanakan mengingat kegiatan WGBP kerjasama dengan OXFAM akan berakhir (2008) padahal WGBP masih harus melaksanakan kegiatan seterusnya.

Lokatulis ini diikuti oleh 10 peserta dari 10 lembaga partisipan antara lain SORAK, Sabda Medan, IDEP/YPA, Tim GSM, Koalisi NGO HAM, Bytra Lhokseumawe, YRBI, Mer-C, Logos Institute dan PKPA Nias. Akan tetapi semua peserta mewakili sebagai individu dan tidak lembaga di mana mereka berasal.

Proses fasilitasi dimulai dengan memperkenalkan SEFT (Spiritual-Emotional Freedom Techniques) sebagai metode healing, happiness, success dan greatness. Pengantaran SEFT pada healing kemudian dilanjutkan dengan Luck Factor dan Deep SEFT for Success. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai SEFT dapat dibuka informasi online di SEFT Center ataupun di Logos Institute.

Bagian berikutnya lebih ke vocational penyusunan program dengan pendekatan antara lain

  1. Menganalisis data-data dan menyusun latar belakang sebagai narasi awal pemetaan masalah. Data yang diperoleh dari pembelajaran program yang telah dilakukan sebelumnya, disusun ulang, disistematisasi dan kemudian dinarasikan. Lesson learned yang dapat diambil menjadi bahan bagi penyusunan program berikutnya. Nalar PCM (Project Cycle Management) diperkenalkan ulang di mana pemrograman haruslah berbasis pembelajaran yang telah ada sebelumnya. Manajemen/pengelolaan daur proyek memberikan panduan bagaimana best practices dapat direplikasi dan lesson learned dapat dijadikan bahan bagi pemrograman. Secara vocational sains mengenai diksi dan komposisi diperkenalkan agar narasi lebih berbasis fakta-fakta (evidence based) dan menghindari jargon maupun slogan-slogan teoritis.
  2. Melakukan scoping atau peneropongan isu-isu utama untuk mendapatkan fungsi esensial yang menjadi core isu. Peneropongan dilakukan dengan menganalisis bahan-bahan best practices dan lesson learned yang telah disusun sebelumnya. Dengan mendapatkan fungsi esensial kita dapat menemukan isu kunci utama untuk menentukan intervensi apa yang akan kita lakukan dan menentukan objective dari proyek.
  3. Setelah itu menyusun objective dengan kerangka yang SMART (specific, measurable, ambitious, realistic, time-bound). Di sini harus dijelaskan dan membedakan antara bahasa kategori, bahasa tujuan dan bahasa indikator.
  4. Dengan mengetahui objective kita dapat mencari tujuan-tujuan antara atau outcome dari program/proyek. Dengan menentukan outcomes dan indikator-indikator pencapaiannya kita dapat melakukan analisis asumsi.
  5. Penyusunan outputs atau keluaran-keluaran proyek dilakukan dengan menderivasikan outcomes ke dalam bahasa yang lebih derivatif atau bahasa outputs yang indikatornya lebih spesifik dan “kongkrit”.
  6. Berbasis pada outputs di atas kita dapat menentukan aktivitas-aktivitas apa saja yang dibutuhkan agar tercapai output-output. Dan berbasis itu pula dapat ditentukan sumberdaya apa saja yang dibutuhkan untuk memenuhinya baik dari sisi sumber daya keuangan (penganggaran), sumber daya manusia (rekrutmen) maupun pendayagunaan aset-aset.
  7. Untuk itu penyusunan anggaran, penyusunan organisasi dan mandaftar aset (untuk melihat kebutuhan aset baru) dilakukan kemudian.
  8. Dari keseluruhan susunan di atas dapatlah dibuat narasi proposal. Sebagai tambahan pada bagian strategi intervensi dapat dilakukan penyusunan atau pengkategorisasian aktivitas intervensi ke dalam berbagai kelompok strategis dan disusun ulang sehingga menampakkan strategi pendekatan atau strategi intervensi.

Demikian tersusunlah sebuah program besar WGBP yang meliputi bidang penghidupan/livelihood, yang fokus pada microfinance dan pertanian organik, bidang pengembangan akuntabilitas lembaga dan bidang pengembangan atau pengarusutamaan gender dalam lembaga.

Terima kasih kepada tim SEFT, tim mengo, dll.