Gagasan tentang Sekolah untuk Anak-anak

Ali, anakku tertua, masuk SMP. Menyelesaikan bangku SD (di MI Swasta di sebuah desa, sekolahnya di tengah sawah) dengan nilai rata-rata saja. Sesuatu yang aku banggakan, sehingga tidak memiliki beban sebagai ‘anak luar biasa’, ranking, pemenang lomba ini itu, olimpiade, juara, dll. Aku ingin anakku biasa-biasa saja.

Sejak masih duduk kelas 6, SMP yang dipilih pun memiliki kriteria sederhana. Suasana sekolah di desa, di mana hubungan sosial masih kuat, kurang terjamah modernitas, dan mudah diakses (jarak dekat dengan pesantren di mana ia belajar menghafal Quran). Ini memang di luar rencana. Karena awalnya berpikir menyekolahkan ke Inggris, dan menyelesaikan pesantrennya ketika tamat SD/MI.

Mengapa Inggris?

Mudah saja, seorang teman yang sudah berpengalaman menyekolahkan ke Inggris. Jadi tidak ada alasan spesifik Inggris. Alasan yang dipilih sebetulnya “asal bukan Indonesia” dan “memungkinkan belajar dengan pergaulan multinasional”. Selain karena kemungkinan untuk mengakses Sekolah Waldorf. Tapi urung karena beberapa alasan. Di antaranya adalah kemunduran Eropa itu sendiri.

Waldorf School atau Waldorf Education memang pilihanku yang pertama, karena imajinasi pendidikannya sangat cocok denganku. http://en.wikipedia.org/wiki/Waldorf_education

Dalam tulisan lain sudah kutegaskan sikapku untuk “berhati-hati” dan cenderung tidak menerima pseudo-concept seperti Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient), Otak Kanan, dan model-model pendidikan yang dijual seperti Quantum Teaching atau Quantum Learning, Multiple Intelligent, Fun Education, Total Recall, dll.

Sekolah Rumah

Inipun berbeda dengan rencana ketika masih kecil sekali untuk bisa membuat sekolah rumah (home schooling). Akan kujelaskan lebih detail.

Yogyakarta sebagai Sekolah Rumah?

Mudah saja. Jika kita menilik Yogyakarta sebagai sekolah, betapa luarbiasanya.

  • Ada museum batik, wayang, biologi, gunung berapi, dll…
  • Ada candi, situs-situs bersejarah, ada taman pintar dll…
  • Ada jutaan ebook, ribuan metode, ratusan sarana belajar di rumah yang bisa dikembangkan.
  • Ada banyak desa wisata, desa batik, desa bambu, dll…
  • Ada ribuan perpustakaan komunitas, perpustakaan desa, dll
  • Ada ratusan sekolah dengan pelbagai metode, yang bisa kita tempel untuk belajar

Sehingga soal kita menyusunnya ke dalam dan menjadi progam belajar anak, sistematis, reflektif dan tentu saja kerangka evaluasinya.

Sebelum akhirnya memutuskan mencari SMP. Seorang teman mengajak ke teman lainnya, menengok sebuah inisiasi sekolah baru, yang konon berwawasan internasional, sehingga guru dipanggil mister dan miss. Bagiku, sebuah bentuk panggilan dekaden, kemunduran. Ada perubahan mendasar yang memungkinkan saya tertarik, yaitu bahwa salah seorang gurunya telah belajar permakultur dan memiliki keinginan kuat untuk “sekolah berkebun“. Poinnya bukan berkebun an sich. Yang lainnya saya sama sekali tidak tertarik, seperti multiple intelligence, quantum learning/teaching, brain recall atau semacam itulah untuk memperkuat daya ingat anak, dll. Meskipun saya tertarik dengan pendidikan karakter, yang sebetulnya sebagian besar sudah ia didapatkan di pesantrennya sekarang, dan meski pesantren pun mulai kehilangan ini.

Pendidikan Karakter

Ada berapa karakter yang sebetulnya mesti ada pada anak usia SMP? Dan apakah sekolah+pesantrennya bisa memberikan kemungkinan itu secara paripurna? Bagaimana dengan lingkungan sebagai determinan yang sangat mempengaruhi?

Saya tidak akan mengkaji jawab satu per satu. Faktor lingkungan sebagaimana ditanyakan di atas adalah faktor yang sulit dikelola. Setidaknya alam pedesaan lebih baik daripada umumnya kota. Tetapi ada beberapa faktor yang menjadi concern saya.

  1. Televisi. Televisi adalah media terburuk yang semestinya saya bisa komunikasikan dengan pesantren untuk ditiadakan di pesantren.
  2. Internet. Warnet memang masih merupakan akses yang sulit dikontrol sekolah dan pesantren (termasuk orang tua).
  3. Pergaulan. Anak setengah kota mengidap gegar budaya, sebagaimana orang tua mereka, yang telah menekuni profesi setengah kotanya, dan keterikatannya pada uang, mendekatkan pada kemungkinan-kemungkinan. Perlu dicatat: saya tidak mengkhawatiri kenakalan remaja, apapun definisinya, selama kapasitas dialog dimungkinkan dan bukan merupakan eskapisme.

Pendidikan Hidup

Pendidikan dibagi tiga domain: 0-7 meniru; 7-14 berimajinasi dan eksplorasi; 14-21 ilmu kehidupan (skill).

Saatnya untuk anak SMP belajar seni kehidupan. Mari kita definisikan hidup seperti apa yang akan dijalani hingga akhir hayat.

  1. Makanan (menanam, mengolah/memasak, menyimpan)
  2. Survival dan Resilience (meliputi sikap, pengetahuan ketahanan hidup dalam kondisi mendesak, kemampuan adaptasi cepat, dll)
  3. Skill dasar di rumah (mengelola air, mengelola sampah, mengelola kebun sekitar rumah, mencuci baju, mencuci piring, menghormati dan melayani tamu, memperbaiki genteng dan talang, mendesain tata ruang rumah, mengelola sinar matahari, mengelola angin di rumah, menata energi rumah dll)
  4. Berkehidupan sosial yang baik (bertetangga, berteman, dll)
  5. Karakter dasar (jujur, amanah, kerjasama, tidak patah semangat, motivasi, rajin, tekun, sabar, merasa cukup/qona’ah, sumeleh, dll)
  6. Skill tambahan (memperbaiki sepeda, meja kursi, sepeda motor, main musik atau gamelan, bercerita dan berekspresi, menulis cerita, membuat lelucon, berkreasi, melukis, berpuisi, dll)

Saya ragu itu semua ada di sekolah… yang lebih mementingkan nilai matematika😀

Lalu Mengapa Sekolah?

Mudah saja. Karena kita malas. Sebagian besar sudah mengikat kontrak untuk dimiliki yang lain, demi uang, dan gaya hidup, dari Hari Senin-Jum’at, terkadang Sabtu bahkan Minggu. Sehingga peran kita sebagai pendidik harus digadaikan dan digantikan oleh sekolah.

Betul, sekolah sejatinya adalah “tempat penitipan anak” ketimbang tempat belajar. Sebagai tempat belajar, itu predikasi tambahan yang mati-matian para guru, pejabat kependidikan dari pemerintah, pengamat dan konsultan, bahkan organisasi non pemerintah, mencoba memperbaikinya, menjadi benar-benar tempat belajar. Saya tidak mengecilkan upaya mereka itu, mempertahankan idealisme, mengembalikan citra ideal sekolah, sebagai wahana belajar yang sesungguhnya. Ada yang menggunakan pendekatan “menyenangkan”, ada yang menggunakan pendekatan “akselerasi”, ada yang menggunakan pendekatan “terpadu”, ada pula “inklusi”, “integratif” dll.

Ada yang memulai dari metodologi, memperbaiki kurikulum, pendekatan, cara mengajar, ruangan belajar (seperti sekolah alam), yang sering luput memperbaiki sistem evaluasi, yang hingga saat ini masih tersentral, dan berpusat pada “angka dalam ijazah”.

Ada pula memulainya dari sudut pandang yang berbeda, misalnya kualitas guru, sarana prasarana, dll.

Kembali ke pokok, mengapa sekolah? Yah… kita malas dan tersita habis waktu kita. Kita lebih fokus sebagai mesin pencetak uang ketimbang pendidik. Ketika harus memilih, banyak orang akan memilih menjadi pendidik, di mana sistem, akan membuat kita tidak mudah. Lalu makan apa? Ini adalah pertanyaan sederhana yang tidak mudah dijawab. Meskipun seringkali pertanyaan itu menjadi pertanyaan bersayap pada “makan yang seperti apakah untuk keluarga dan/atau anak-anak saya?”. Jadi tentang pilihan gaya hidup ketimbang bertahan hidup per se.

Jadi keterjebakan sistemik ini tidak mudah dipecahkan para orang tua yang telah kadung, bahkan ketika akan menikah, memilih menetapkan mapan ekonomi atau berpenghasilan tetap sebagai prasyarat membangun rumah tangga. Sebuah kategori yang membayangi para calon mertua terhadap calon menantunya.

Apalagi ditambah “fakta” bahwa hidup tidak sekedar makan. Semua hal itu, termasuk dan terutama makan, hanya dan jika hanya, diperoleh dengan memperoleh uang dan membelanjakannya, sesederhana apapun, hatta hanya untuk membeli garam.

Lalu Bagaimana?

Sekolah rumah memanglah opsi terbaik. Tetapi lagi-lagi ini bukan sikap eksklusif. Haruslah ini upaya bersama. Karena lingkungan adalah determinan penting terhadap rumah dan tentu saja sekolah-rumah. Artinya ini seharusnya sikap budaya. Atau setidaknya sikap komunitas. Maka penting semenjak awal “ada komunitasnya” di mana secara bersama membangun sebuah lingkungan yang memungkinkan mensubstitusi sekolah ke rumah, atau lebih esensial lagi, mengembalikan ranah pendidikan berpusat ke rumah dan lingkungan, bukan ke sekolah.

Sehingga sekolah hanyalah “tindakan antara”, yang membantu proses sosialisasi anak, yang secara perlahan mesti ditransformasikan, kembali ke rumah.

Sekolah rumah harus mengambil peran penting di dalam komunitas. Yang dalam konteks jangka panjang menjadi substitusi paripurna terhadap sekolah, yang juga mampu menjembatani lingkungan sebagai sekolah di luar rumah.

Siasat

Sekolah menawarkan apa yang tidak dapat ditawarkan yang lain, yaitu ijazah. Ijazah adalah lembaran legitimasi normal dan formal yang membayangi orang tua yang (seolah) harus dimiliki anak agar dianggap terdidik, dapat melanjutkan, kemudian mencari pekerjaan layak. Banyak sekali orang pintar tanpa ijazah yang akhirnya kalah dalam kehidupan, hanya karena tidak dapat mengakses pekerjaan.

Tetapi sistem pendidikan kita mengenal pendidikan nonformal yang dikelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, yang dipandang dari sisi konsepnya, berasal dari masyarakat dalam mengembangkan pendidikan nonformal, dan menjadi jembatan akses ijazah dengan pendekatan penyetaraan yang dikenal Paket A, B, C.

Sayangnya tidak ada sistem hibrida. Selama ini inisiatif yang ada justru bagaimana mereka yang belajar nonformal dapat mengakses sekolah formal, dengan model dan pendekatan transisi. Padahal yang diperlukan adalah pendekatan hibrida dan juga sebagai pendekatan transisi dari sekolah ke sekolah rumah. Siasat ini belum ditemukan.

Jika ada sekolah yang bersedia untuk mengurangi “beban” dirinya dan melimpahkan kepada orang tua secara sistematis dan berangsur-angsur, sembari mengembangkan pendidikan rumah, maka hal ini menjadi model transisi yang baik.

Dan mainstream, arus utama, perbaikan sistem pendidikan, adalah masih mempusatkan diri pada pendidikan formal, dalam hal ini sekolah. Di mana parenting telah menjadi bagian dari pendekatan pendidikan formal, di mana orang tua ikut berperan dalam proses pendidikan (di) sekolah.

Oleh karena itu, melihat hal ini, parenting adalah hal niscaya dalam pendidikan formal, tetapi bukan itu yang dimaksud. Sudah semestinya sekolah itu dimulai di rumah, bukan di institusi yang dibangun khusus untuk itu. Dan oleh karenanya perubahan sistemiklah yang harus dilakukan. Bagaimana mungkin jika ketergantungan kita akan uang belum dipecahkan kita membangun sebuah pendidikan di rumah?

Walhasil “financial freedom” adalah prasyarat dalam pendidikan!

Asimilasi dan Adaptasi Kelompok Belajar

Saya sangat merekomendasikan untuk kelas belajar dalam Homeschooling. Sejak awal niat saya menyekolahkan anak ke sekolah umum dengan suasana desa adalah sosialisasi dan rekulturasi.

Kelas belajar dengan dua anak saja akan menjadikan anak kurang memiliki pilihan dan tiga anak juga masih terlalu kurang. Dengan jumlah kelompok belajar lima sampai tujuh anak menjadikan proses belajar optimal.

Proses mimikri dengan asimilasi dan adaptasi, anak akan memilih berkelompok dengan siapa, relatif berpindah kelompok atau tetap memilih, atau memilih sendiri saja, atau kecenderungan lain