Learning point this month (06/2008)

Bulan Juni 2008 cukup luar biasa. Pertama, mencoba menuai harapan bersama teman-teman CENTRALS Aceh, sebuah upaya yang tidak mustahil tetapi ada semacam “psychological barriers” yang bisa diabaikan selama kontribusi nyata dan voluntaris, semacam semangat siap rugi.

Kemudian kedua, dengan kawan-kawan HI-UMCOR yang menggalang kesepakatan agar proses dicapai secara optimal, dalam kerjasama mereka, yang sebelumnya saya terlibat dan mensukseskannya.

Kemudian ketiga, posisi dosen di AKFIS “Harapan Bangsa”, yang selama satu semester kurang “smooth” tapi basicly… lancar, dan semester ini telah berakhir dengan standar yang baik.

Di GRM International, harus mendaftar lagi, dan di ASPBAE belum ada kabar lanjutan, mungkin harus dikontak ulang. Tidak perlu dihitung tapi cukup dicatat.

Keempat, bersama Rahman mendampingi Flower Aceh membuat buku dan mencoba menginisiasi “pangkalan” di depan Hotel Hermes Palace, Banda Aceh. Ada sejumput harapan bersama pangkalan baru ini.

Kelima, menyiangi Kampoeng Atjeh dan HRDC agar berbiak menjadi semacam stasion pemancar yang dapat dilihat dari kejauhan Jawa.

Hutangku pada TAMMI dan KOSMA untuk membawa mereka pada perubahan. TAMMI yang muda dan bergairah, KOSMA seniman yang mencoba mengasah diri dalam perjalanan.

Semuanya masih berada dalam ketidakpastian. Semuanya masih berada di alam kemungkinan. Mengubah yang tidak pasti menjadi mungkin dan saatnya kemungkinan diwujudkan dalam gairah kehidupan yang nyata dan tersentuh.

Advertisements

Yayasan Bina Kaum Dhuafa

Pyuh…

Yayasan Bina Kaum Dhuafa adalah kenangan lama. Setelah bergaul dengan kawan-kawan di LSTA dan Elkahai (1994-1996), di mana pergaulan meluas ke berbagai kalangan aktivis. Sebuah persingunggan dan perkenalan awal di dunia aktivitas yang bertajuk NGO, LSM, Ornop, dll. Saya merasa harus mengucapkan terima kasih kepada Rifaat Amhariz, teman seangkatan kuliah, yang mempertemukan dengan saudara-saudaranya (Taufik Rahzen, M. Hidayat Rahz, Mujib, dll).

Bersama LSTA sempat pula mendampingi masyarakat Patangpuluhan dan Tegalrejo dengan Tribina bersama KUBE yang difasilitasi Departemen Sosial. Kegiatan selama setahun bersama masyarakat ini (1996), dengan bersepeda ketika mendatangi pertemuan dan melakukan konsultasi publik, menjadi ingsutan diri dari gerakan mahasiswa yang peduli dan fokus pada advokasi ke pendampingan dan pengorganisasian masyarakat.

Yayasan Bina Kaum Dhuafa, yang ingin saya ceritakan di sini, didirikan Sumedi Purba (lagi-lagi teman seangkatan kuliah) di lereng Merapi, tempat dia tinggal dan di mana rumah robohnya menjadi perhatian kami semua teman kuliah. Rumah roboh adalah momentum kami:Sumedi, Rozi, Anam, Agung Dalbo, Agus Widiyanto, dll bahwa harus ada tindakan yang mengantisipasi agar tidak terjadi rumah roboh lagi. Salah satunya Yayasan Bina Kaum Dhuafa yang kemudian disingkat YASBIDHU.
Sumedi sebagai motor penggerak akhirnya menuntun pada pembentukan kelompok tani “LANCAR” di mana Pak Slamet menjadi ketuanya. Akhirnya dengan dorongan proyek CRP/PKM pasca krisis, terbentuklah Koperasi Jamur “LANCAR” yang menurut Mas Medi (2006) sudah beranggotakan 300-an orang. Kami, Sumedi, Anam dan Agus Tejo, dengan proyek CRP/PKM (1997-1999) mendorong teman-teman petani untuk mengembangkan jamur kuping. Ini adalah kisah sukses pertama secara langsung memenej proyek 18 bulan dengan hasil yang ekstra memuaskan.

Saat ini pertanian jamur sudah sangat berkembang dan diversifikasinya juga, baik dari sisi produk pasca panen maupun jenis yang ditanam (seperti Lingzhi, Shitake, dll). Pernah pula ekspor, akan tetapi kestabilan suplai dan rendahnya kualitas produksi masih menjadi kendala. Di tengah iklim yang berubah-ubah, baik iklim alamiah maupun iklim buatan seperti kebijakan dll, mempengaruhi kinerja dan motivasi para petani. Mendampingi mereka masih membutuhkan support yang lebih. Akan tetapi Mas Medi memutuskan untuk men-stop YASBIDHU dan mendorong Koperasi untuk lebih bergerak. Dan secara personal Mas Medi memilih, selain bertani, juga mengembangkan demplot percontohan, laboratorium lapangan dan memfasilitasi berbagai pelatihan di berbagai daerah, sebuah kegiatan yang sangat sibuk. Nah, saya sendiri… sudah harus memilih jalan lain. Salut kepada Agus Tejo yang juga bersama Mas Medi tetap bertahan menjadi petani.

Tentang YASBIDHU sendiri, kita masih bisa lacak di http://www.lp3es.or.id/direktori/data/yogya/yogya_019.htm. Akan tetapi email kontaknya sudah diupdate ke binadhuafa@yahoo.co.id

Kenangan lama sebuah proyek 18 bulan yang menggairahkan, di mana awal memproses proyek LSM dan menjadi menejer 😉 Tidak sama dengan gerakan mahasiswa, tapi lebih baik daripada menjadi “karyawan”, seperti yang dialami sampai hari ini.

Fasilitasi Impact Assessment bersama WGBP & OXFAM GB

Working Group Beusaboh Pakat, sebuah kelompok kerja mitra2 OXFAM di Aceh dan Sumatera Utara menyelenggarakan workshop 4 hari mengenai Impact Assessment. Saya diminta memfasilitasi Impact Assessment yang terkait dengan Project Cycle Management. Kegiatan akan dilaksanakan di Hotel Cakra Donya, Banda Aceh dengan utusan lebih dari 35 lembaga mitra OXFAM. Kegiatan akan berlangsung dari tanggal 10 sampai tanggal 13 April 2008.

Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi para partisipan dan lembaga mitra.