Kelangkaan Energi?

Kemaren 1 September 2014, temen-temen mahasiswa dari satu perguruan tinggi magang menjadi reporter dan berkesempatan berbincang-bincang kecil.

KR - Swara Kampus, 9 September 2014, hal.11KR – Swara Kampus, 9 September 2014, hal.11

Pertanyaan: Berkenaan dengan rencana kenaikan harga BBM dan kelangkaan BBM baru-baru ini sebetulnya bagaimana menyikapi?

Jawab: Sebetulnya kita bisa pilah menjadi tiga bagian;

 

  1. Persepsi kita tentang energi selama ini hanya dibatasi pada energi listrik dan BBM. Dan keduanya didominasi oleh bahan bakar fosil. Padahal energi tidak terbatas pada itu saja. Air, tidak dalam konteks diubahnya menjadi listrik, tetapi air itu sendiri sebagai energi. Angin, Panas/Cahaya Matahari, Gravitasi, Tanah-subur beserta mikroba yang hidup di dalamnya, dll. Dalam hal fotocahaya matahari penangkap energi terbaik bukanlah panel surya buatan manusia. Dari sudut pandang teknologi, teknologi manusia masihlah ketinggalan. Bandingkan dengan teknologi daun, sebagai penangkap cahaya matahari untuk keperluan fotosintesa, yang menghasilkan energi dan oksigen. Dengan mengubah persepsi kita akan energi, kita akan memahami bahwa energi di alam itu berlimpah (abundance) dan tidak langka (scarcity). Penyempitan makna energi dan pembentukan persepsi kelangkaan adalah sebuah penyesatan.
  2. Pengembangan energi terbarukan. Saat ini banyak sekali temuan atauinvention juga teknologi tepat guna (approriate tech) yang bisa direplikasi dan diduplikasi untuk kemudian diadaptasikan dalam pelbagai skala kultivasi energi, dari skala rumah tangga hingga desa. Sebetulnya kemudian tinggal kreativitas kita dan sikap proaktif kita untuk menginisiasi pengembangan energi terbarukan. Saya tidak bicara tentang satu jenis energi terbarukan, apakah dari tanaman ataukah dari hewan ataukah dari sumber-sumber alamiah lain yang terbarukan. Karena tentu saja setiap hal itu terkait adaptasi kita dan kemampuan kita secara kreatif mengaplikasikan dalam konteks kita sendiri dan kemampuan kita sendiri. Saya sebut kemampuan mungkin bisa saja berkaitan dengan kemampuan finansial, tapi sebaiknya kita singkirkan dulu hal tersebut, dalam arti kita tidak narrowed memandang kemampuan kita. Karena terpenting adalah aksesibilitas kita dalam menjangkau pengetahuan dan aplikasinya.
  3. Mengurangi konsumsi. Dan ini merupakan sikap terpenting. Pengurangan konsumsi adalah disiplin diri sekaligus tirakat (laku prihatin). Kita sudah terlampau dibuai oleh mudahnya dan murahnya energi, sebagai pengkondisian kepada ketergantungan. Jadi pengurangan konsumsi ini berada pada tiga ranah: Pertama, mengurangi ongkos yang kita keluarkan, atau tepatnya pengorbanan yang kita keluarkan untuk membeli energi atau mengganti pengorbanan itu dengan energi, termasuk listrik atau BBM, yan berarti penghematan dan pengalokasian lebih tepat atas penggunaan sumber daya, termasuk keuangan. Kedua, mengurangi ketergantungan kita atas produk-produk energi, terutama listrik dan BBM, sehingga memungkinkan kita untuk “merdeka” dari ketergantungan. Secara gradual, pengurangan konsumsi energi juga berarti semakin tidak tergantungnya kita akan suplai energi yang menjadikan kita tergantung daripadanya. Dan ketiga, sebagai langkah tirakat secara gradual untuk betul-betul merdeka, cut off dan off the grid, sehingga secara spiritual menjadi manusia merdeka dan menghamba kepada hanya Allah. Esensi penghambaan yang merupakan laku spiritual adalah pada ketergantungan hanya kepada Allah semata.

Demikian catatan saya.

The Difference between FOCUSING on PROBLEMS and FOCUSING on SOLUTIONS

Case # 1 : When NASA began the launch of astronauts into space, they found out that the pens would not work at zero gravity (ink will not flow down to the writing surface).

Solution # 1 : To solve this problem, it took them one decade and $12 million. They developed a pen that worked at zero gravity, upside down, underwater, in practically any surface including crystal and in a temperature range from below freezing to over 300 degrees C.

Solution # 2 : And what did the Russians do…?? They used a pencil.

Case # 2 : One of the most memorable case studies on Japanese management was the case of the empty soapbox, which happened in one of Japan ‘s biggest cosmetics companies. The company received a complaint that a consumer had bought a soapbox that was empty.

Immediately the authorities isolated the problem to the assembly Line, which transported all the packaged boxes of soap to the delivery department. For some reason, one soapbox went through the assembly line empty.

Management asked its engineers to solve the problem.

Solution # 1 : Post-haste, the engineers worked hard to devise an X-ray machine with high-resolution monitors manned by two people to watch all the soapboxes that passed through the line to make sure they were not empty. No doubt, they worked hard and they worked fast but they spent a whoopee amount to do so.

Solution # 2 : But when a rank-and-file employee in a small company was posed with the same problem, he did not get into complications of X-rays, etc., but instead came out with another solution.

He bought a strong industrial electric fan and pointed it at the assembly line. He switched the fan on, and as each soapbox passed the fan, it simply blew the empty boxes out of the line.

Moral
· Always look for simple solutions.
· Devise the simplest possible solution that solves the problems.
· Always focus on solutions & not on problems

Young Changemakers Initiative

Ashoka meyakini bahwa setiap orang adalah pembawa perubahan. Peran kaum muda dalam proses perubahan sosial merupakan salah satu komponen penting yang tidak dapat diabaikan. Sejak tahun 2005 Ashoka Indonesia mengembangkan program Young Social Entrepreneurship (YSE) yang bertujuan untuk mendorong lahirnya lebih banyak pembaharu muda.

Ashoka telah menyusun ulang konsep dan isi/modul dari program YSE (kini disebut sebagai Young Changemakers). Konsep dan modul Young Changemakers dibuat lebih sederhana, inspiratif, aplikatif, dan mudah untuk direplikasi di berbagai tempat. Dengan demikian inisiatif Young Changemakers dapat diadopsi di berbagai wilayah baik oleh alumni pelatihan, fellow dan organisasi fellow, institusi pendidikan, ataupun organisasi lainnya.

Melalui prakarsa ini diharapkan muncul bibit-bibit pembaharu sosial di tingkatan lokal. Para pembaharu muda yang akan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitarnya. Untuk mewujudkan gerakan pembaharu muda yang lebih besar, tentu diperlukan dukungan dari berbagai kelompok masyarakat.

Tujuan

Program ini bertujuan untuk :

  1. Menginspirasi peserta untuk menjadi pembaharu muda.
  2. Membantu peserta untuk mempersiapkan langkah-langkah untuk mewujudkan inisiatif terkait social venture yang dimilikinya
  3. Mendorong peserta untuk membangun lebih banyak komunitas Young Changemakers di daerahnya.

Alur Program

  1. Pelatihan Young Changemakers. Diselenggarakan di kota masing-masing oleh Panitia Lokal dan Ashoka Indonesia selama 2 (dua) hari.
  2. Pengiriman Aplikasi (Pertengahan Agustus). Mengirimkan aplikasi mengenai ’social venture’ ke Ashoka Indonesia
  3. Implementasi (Agustus-November). Mengimplementasikan ’social venture’ dalam rentang waktu yang ditentukan
  4. Pelaporan (Akhir November). Memberikan laporan kepada Ashoka Indonesia mengenai perkembangan ’social venture’ dalam bentuk narasi dan dokumentasi visual.
  5. Seleksi Panel (Pertengahan November). Berkesempatan mengikuti seleksi panel yang diselenggarakan Ashoka Indonesia
  6. Komunitas Young Changemakers (Pertengahan November). Bergabung dalam komunitas Young Changemakers global

Peserta dan Kriteria Peserta :

Pelatihan akan diikuti oleh 20 kaum muda yang memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Sudah memiliki komunitas
  • Memiliki empati dan minat terhadap sektor sosial
  • Sudah/akan memulai ‘social venture
  • Bersedia membagikan pengalaman menjadi ‘Young Changemakers’ kepada komunitas di sekitarnya
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
  • Open minded (terbuka)
  • Rentang usia mulai dari usia SMP hingga setara Mahasiswa

Tempat dan Waktu :

Pelatihan Young Changemakers ini akan dilaksanakan di 5 kota di Indonesia: Medan, Jambi, Bali, Mataram dan Makasar.

Untuk waktu pelaksanaan pelatihan akan diselenggarakan pada bulan Juli-Agustus 2008.