IDEA

IDEA is stand for Inclusion and Diversity to Enable Accessibility-for-All

Where do I “fit”? Do I “belong”? In short, am I “in” or am I “out”?
Tema mengenai inclusion and diversity (inklusi dan keanekaragaman) dapat didekati dari berbagai arah pendekatan dan dialami dengan cara yang berbeda-beda. Namun demikian, segalanya tampak menggelending dari pertanyaan di mana kita menempatkan diri dalam kaitannya dengan topik/isu tertentu dan posisi kita dalam masyarakat di mana kita tinggal. Hal ini tergantung bagaimana kita melihat dan memahami diri kita sendiri dalam konteks budaya, status, pendidikan, pekerjaan dan situasi/kelas ekonomi, seksualitas, mobilitas… dan seterusnya dan seterusnya.

Dalam berbagai definisi mengenai  “inclusion” dan juga “diversity”, dua elemen setidaknya muncul: kondisi dan keadaan “di dalam” atau “di luar”; dan proses perubahan dari kondisi tersebut. Tentu saja ini menyederhanakan diskusi kita saja. Diskusi yang membahas mengenai inklusi dan keanekaragaman juga memberi perhatian pada kekayaan akan perbedaan, manfaat dari adanya pengalaman yang beragam dalam kehidupan, dan integritas seseorang sebagai individu. Kata-kata seperti  “access”, “participation” dan “potential” adalah juga tema penting yang juga diperhatikan. Namun yang harus diperhatikan, tujuan fundamental dari pemberdayaan kaum muda berasal dari pertanyaan dasar – bagaimana Aku, pemimpin muda, dan bagaimana mereka, kaum muda, memandang situasi sosial – dan lebih lanjut apakah mereka “di dalam” ataukah “di luar” – dan apakah kita berusaha mengubahnya?

Jadi di mana kita akan memulai untuk mendekati isu inclusion and diversity terutama dari sudut pandang pemberdayaan atau spesifik lagi pelatihan (memunculkan pertanyaan kritis, bagaimana kita bekerja dalam inklusi dan keanekaragaman di dunia kerja kita)? Kita harus memilih suatu pendekatan dari pengalaman yang sama (common experience) yang selama ini kita rasakan bersama, sebuah pengalaman yang membantu kita memahami dinamika sosial dari inklusi dan keanekaragaman: YAITU pengalaman meng-eksklud (mengeluarkan/mengucilkan) orang yang kita pandang berbeda dari kita atau kelompok kita.

Inilah titik keberangkatan pembahasan positif. Kita akan mencapai tujuan dari inklusi, di mana perbedaan tidaklah merepresentasikan tembok penghalang bagi pemenuhan individual dan kesempatan sosial. Akan tetapi, ini hanya manakala kita memahami peran diri kita sendiri dalam menciptakan eksklusi atau inklusi sosial yang dengan itu kita bisa mencari jalan untuk bekerja menuju inklusi kelompok-kelompok yang berbeda. Dengan cara ini kita dapat mengubah keadaan yang menciptakan eksklusi lebih mudah dan mendorong lingkungan untuk menciptakan inklusi.

IDEA adalah tools sekaligus pelatihan-pelatihan untuk itu.