Secret of Success

A young man asked Socrates the secret of Success. Socrates told the young man to meet him near the river the next morning. They met.

Socrates asked the young man to walk with him towards the river.

When the water got up to their neck, Socrates took the young man by surprise and ducked him into the water. The man struggled to get out but Socrates was strong and kept him there until he started turning blue.

The young man struggled hard and finally managed to get out and the first thing he did was to gasp and take deep breath. Socrates asked ‘What you wanted the most when you were there?’ The man replied ‘Air’.

Socrates said ‘that’s the most secret to success. When you want success as badly as you wanted air, you will get it. There is no other secret’.

Advertisements

The Difference between FOCUSING on PROBLEMS and FOCUSING on SOLUTIONS

Case # 1 : When NASA began the launch of astronauts into space, they found out that the pens would not work at zero gravity (ink will not flow down to the writing surface).

Solution # 1 : To solve this problem, it took them one decade and $12 million. They developed a pen that worked at zero gravity, upside down, underwater, in practically any surface including crystal and in a temperature range from below freezing to over 300 degrees C.

Solution # 2 : And what did the Russians do…?? They used a pencil.

Case # 2 : One of the most memorable case studies on Japanese management was the case of the empty soapbox, which happened in one of Japan ‘s biggest cosmetics companies. The company received a complaint that a consumer had bought a soapbox that was empty.

Immediately the authorities isolated the problem to the assembly Line, which transported all the packaged boxes of soap to the delivery department. For some reason, one soapbox went through the assembly line empty.

Management asked its engineers to solve the problem.

Solution # 1 : Post-haste, the engineers worked hard to devise an X-ray machine with high-resolution monitors manned by two people to watch all the soapboxes that passed through the line to make sure they were not empty. No doubt, they worked hard and they worked fast but they spent a whoopee amount to do so.

Solution # 2 : But when a rank-and-file employee in a small company was posed with the same problem, he did not get into complications of X-rays, etc., but instead came out with another solution.

He bought a strong industrial electric fan and pointed it at the assembly line. He switched the fan on, and as each soapbox passed the fan, it simply blew the empty boxes out of the line.

Moral
· Always look for simple solutions.
· Devise the simplest possible solution that solves the problems.
· Always focus on solutions & not on problems

Religion between Discrimination and Tolerance

In a state of tolerance in America, an atheist created a case against the upcoming Easter and Passover holy days. He hired an attorney to bring a discrimination case Against Christians, Jews and observances of their holy days. The argument was that it was unfair that atheists had no such recognized days. The case was brought before a judge. After listening to the passionate presentation by the lawyer, the judge banged his gavel declaring,”Case dismissed!”

The lawyer immediately stood objecting to the ruling saying, “Your honor, how can you possibly dismiss this case? The Christians have Christmas, Easter and others. The Jews have Passover, Yom Kippur and Hanukkah, yet my client and all other atheists have no such holidays.” The judge leaned forward in his chair saying, “But you do. Your client, counsel, is woefully ignorant.” The lawyer said, “Your Honor, we are unaware of any special observance or holiday for atheists.”

The judge said, “The calendar says April 1st is April Fools Day. Psalm 14:1 states, ‘The fool says in his heart, there is no God.’ Thus, it is the opinion of this court, that if your client says there is no God, then he is a fool. Therefore, April 1st is his day. Court is adjourned.

Team Building WGBP

Setelah melakukan pengunduran jadwal sampai beberapa kali, pada akhirnya WGBP, salah satu mitra OXFAM GB di Aceh-Nias melaksanakan kegiatan Team Building bagi anggota komite kreatif, koordinator, lembaga penjamin dan staf-staf WGBP. Kegiatan berlangsung empat hari, akhir November 2008, di Gapang, Pulau Weh… atau dikenal sebagai Sabang.

Kegiatan dimulai dengan berbagai permainan outbound dan tes-tes psikologis. Dari hasil tes-tes dan berbagai permainan menampak bahwa bahan-bahan dasar bagi tim tidak muncul dan menampak kuatnya ‘individualisme’ dari masing-masing komponen.

Untuk itu penelaahan masalah dilakukan dengan mengkaji barier-barier psikologis dengan pelacakan mind map. Dalam pelacakan ini ditemukan bahwa akar masalah ada pada semua komponen yang ingin mengedepankan diri sendiri ketimbang semangan kelompok dan kebersamaan. Dan pada saat yang sama tidak ada ‘roh’ kepemimpinan yang dapat memimpin arus tidak menentu ini. Ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai apa yang bisa dilakukan bersama untuk mengantisipasinya.

Kegiatan berakhir dengan membuat rencana bersama dan pribadi mengenai apa yang bisa ‘aku’ lakukan bagi WGBP. Dan fasilitator/trainer yang merupakan seorang psikolog profesional memberikan advis-advis.

Terima kasih kepada Fattah Hidayat, M.Psych. dah Ustad Fachrurozi yang memberi kekuatan tim ini.

Lokatulis Penyusunan Program WGBP

Lokatulis Penyusunan Program WGBP dilaksanakan mengingat kegiatan WGBP kerjasama dengan OXFAM akan berakhir (2008) padahal WGBP masih harus melaksanakan kegiatan seterusnya.

Lokatulis ini diikuti oleh 10 peserta dari 10 lembaga partisipan antara lain SORAK, Sabda Medan, IDEP/YPA, Tim GSM, Koalisi NGO HAM, Bytra Lhokseumawe, YRBI, Mer-C, Logos Institute dan PKPA Nias. Akan tetapi semua peserta mewakili sebagai individu dan tidak lembaga di mana mereka berasal.

Proses fasilitasi dimulai dengan memperkenalkan SEFT (Spiritual-Emotional Freedom Techniques) sebagai metode healing, happiness, success dan greatness. Pengantaran SEFT pada healing kemudian dilanjutkan dengan Luck Factor dan Deep SEFT for Success. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai SEFT dapat dibuka informasi online di SEFT Center ataupun di Logos Institute.

Bagian berikutnya lebih ke vocational penyusunan program dengan pendekatan antara lain

  1. Menganalisis data-data dan menyusun latar belakang sebagai narasi awal pemetaan masalah. Data yang diperoleh dari pembelajaran program yang telah dilakukan sebelumnya, disusun ulang, disistematisasi dan kemudian dinarasikan. Lesson learned yang dapat diambil menjadi bahan bagi penyusunan program berikutnya. Nalar PCM (Project Cycle Management) diperkenalkan ulang di mana pemrograman haruslah berbasis pembelajaran yang telah ada sebelumnya. Manajemen/pengelolaan daur proyek memberikan panduan bagaimana best practices dapat direplikasi dan lesson learned dapat dijadikan bahan bagi pemrograman. Secara vocational sains mengenai diksi dan komposisi diperkenalkan agar narasi lebih berbasis fakta-fakta (evidence based) dan menghindari jargon maupun slogan-slogan teoritis.
  2. Melakukan scoping atau peneropongan isu-isu utama untuk mendapatkan fungsi esensial yang menjadi core isu. Peneropongan dilakukan dengan menganalisis bahan-bahan best practices dan lesson learned yang telah disusun sebelumnya. Dengan mendapatkan fungsi esensial kita dapat menemukan isu kunci utama untuk menentukan intervensi apa yang akan kita lakukan dan menentukan objective dari proyek.
  3. Setelah itu menyusun objective dengan kerangka yang SMART (specific, measurable, ambitious, realistic, time-bound). Di sini harus dijelaskan dan membedakan antara bahasa kategori, bahasa tujuan dan bahasa indikator.
  4. Dengan mengetahui objective kita dapat mencari tujuan-tujuan antara atau outcome dari program/proyek. Dengan menentukan outcomes dan indikator-indikator pencapaiannya kita dapat melakukan analisis asumsi.
  5. Penyusunan outputs atau keluaran-keluaran proyek dilakukan dengan menderivasikan outcomes ke dalam bahasa yang lebih derivatif atau bahasa outputs yang indikatornya lebih spesifik dan “kongkrit”.
  6. Berbasis pada outputs di atas kita dapat menentukan aktivitas-aktivitas apa saja yang dibutuhkan agar tercapai output-output. Dan berbasis itu pula dapat ditentukan sumberdaya apa saja yang dibutuhkan untuk memenuhinya baik dari sisi sumber daya keuangan (penganggaran), sumber daya manusia (rekrutmen) maupun pendayagunaan aset-aset.
  7. Untuk itu penyusunan anggaran, penyusunan organisasi dan mandaftar aset (untuk melihat kebutuhan aset baru) dilakukan kemudian.
  8. Dari keseluruhan susunan di atas dapatlah dibuat narasi proposal. Sebagai tambahan pada bagian strategi intervensi dapat dilakukan penyusunan atau pengkategorisasian aktivitas intervensi ke dalam berbagai kelompok strategis dan disusun ulang sehingga menampakkan strategi pendekatan atau strategi intervensi.

Demikian tersusunlah sebuah program besar WGBP yang meliputi bidang penghidupan/livelihood, yang fokus pada microfinance dan pertanian organik, bidang pengembangan akuntabilitas lembaga dan bidang pengembangan atau pengarusutamaan gender dalam lembaga.

Terima kasih kepada tim SEFT, tim mengo, dll.

Gender Scanning & Mainstreaming

Kegiatan GSM (Gender Scanning – Mainstreaming) adalah kegiatan yang dinisiasi WGBP (Working Group Beusaboh Pakat, Kelompok Kerja Peningkatan Kapasitas Lembaga Masyarakat Sipil) Aceh-Nias. Rangkaian FGD telah dilakukan untuk memulai wacana mengenai gender dan pengarusutamaan gender dalam tubuh Lembaga Masyarakat Sipil dan LSM di Aceh dan Nias.

Kegiatan meliputi beberapa rangkaian FGD mengenai gender dan pengarusutamaan gender, mengidentifikasi masalah-masalah kontekstual dan menyusun draft-draft tools untuk scanning dan mainstreaming sekaligus tools-tools untuk melakukan proses coaching.

Kemudian sebuah lokakarya/workshop dilaksanakan di Hotel Pade, Banda Aceh, 7-9 November 2008 menghasilkan antara lain:

1) 4 Coachs yang siap mengawal dan melakukan proses scanning dan pengarusutamaan kepada organisasi partisipan dan lembaga lain pada umumnya.

2) Adanya tools yang dikembangkan dan aplikabel penerapannya

3) Adanya tim GSM yang solid untuk melaksanakan kegiatan GSM dan menyusun rancangan GSM ke depan.

Pendekatan yang dilakukan menggunakan berbagai aspek masukan pengetahuan seperti: Rights-based Approach, Pengantar instrumen HAM dan CEDAW, Pengembangan tools, Peran dan citra lembaga masyarakat sipil, Neuro-linguistic programming, dst.

Selamat dan sukses tim mengo dan tim GSM.

Mengenai coaching dan mentoring dapat dibuka link di wikipedia berikut ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Coaching dan http://en.wikipedia.org/wiki/Mentoring

Semoga bermanfaat

Presentation & Negotiation Skill Training

CARDI (Consortium for Assistance and Recovery towards Development in Indonesia) program di Aceh akan tutup 2008 ini. Untuk exit strategy mereka melakukan rangkaian kegiatan assessment dan lokakarya pembangunan gampong bekerja sama dengan CENTRALs Aceh.

Salah satu agenda adalah pelatihan presentasi dan negosiasi untuk memampukan mitra-mitra KSM gampong yang telah menyusun proposal dapat bernegosiasi dan mempresentasikannya kepada donor bagi pembangunan gampong mereka.

Ini juga salah satu inisiasi untuk mengakses ADG (Alokasi Dana Gampong) dari Pemerintah Provinsi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam). Kegiatan berlangsung di Jantho, Aceh Besar, October 2008

Terima kasih atas kerjasamanya Basri Unoe dan Harley A. Muin.

Program Development mitra-mitra APiH

APiH (Aceh Partnerships in Health) adalah program kemitraan antara McFarlane Burnet Institute for Medical Research and International Health (atau dikenal sebagai The Burnet Institute), the Australian International Health Institute of the University of Melbourne (AIHI) and World Vision Australia (WVA). Didirikan Februari 2006 dan berakhir Desember 2008. Programnya meliputi Adolescent Health, Disability, Policy and Planning, Mental Health dan Organisational Development (OD).

Dalam program OD (pengembangan organisasi), APiH memfasilitasi mitra-mitra untuk menjamin keberlanjutan/sustainability program-program di masa depan. Untuk itu kami menginisiasikan rangkaian kegiatan lokatulis (writeshop) dan konsultasi dalam penyusunan program kegiatan/proyek 2009 dan seterusnya.

Meskipun disadari bahwa sebagian mitra masih memiliki kelemahan dalam penyusunan program dan belum memiliki kerangka strategis rencana ke depan (strategic plan), namun setidaknya dengan lokatulis dan konsultasi, para mitra lebih memahami bagaimana merencanakan kegiatan berbasiskan pengelolaan/manajemen daur proyek (project cycle management) dan menyusun analisis kerangka kerja logis (logical framework analysis) sederhana.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Lokatulis Penyusunan Logframe (Logical Framework Writeshop) selama tiga hari non-stop (sampai malam-malam). Tim yang terdiri dari Agung Wibowo, seorang profesional manajemen, manajer berbagai proyek humanitarian dan seorang capacity builder bersama dengan Khairul Anam, entrepreneur sekaligus profesional trainer motivasi dan manajer berbagai proyek nirlaba serta Dina Wahyuni, profesional akuntan, konsultan dalam bidang manajemen keuangan dan akuntabilitas.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan konsultasi ‘individual’ setiap mitra di kantor masing-masing mitra, pada minggu-minggu berikutnya. Kegiatan konsultasi memakan waktu lebih dari 5 jam. Hal ini terjadi karena ketatnya pencapaian hasil yang maksimal dari pemahaman logical framework analysis yang ingin diraih. Masing-masing mitra yang terdiri dari lembaga pemerintah dan nonpemerintah telah berhasil setidaknya menyusun rencana proposal kegiatan durasi satu atau dua tahun ke depan.

MAP (Medan Aceh Partnership) sebuah lembaga yang fokus pada pendampingan ODHA (PWLHA). MAP telah memiliki mitra dengan berbagai kelompok sebaya seperti VG (Violet Grey) dan juga KDS ODHA di Aceh. Selain itu MAP juga mendampingi kelompok jurnalis AJFA yang peduli terhadap isu-isu HIV/AIDS. YAKITA (Yayasan Harapan Kita) dan AYOMI (Aceh Youth) juga menyusun program pendampingan kesehatan reproduksi remaja serta memberikan pendampingan kepada penghuni Lapas di berbagai tempat di Aceh.

Dinas Kesehatan di Bireuen dan Pidie juga mendapatkan dukungan untuk membuat kegiatan dalam bidang kesehatan jiwa dan kesehatan remaja. Dan terakhir YP3CA yang menangani difabel atau orang-orang dengan kecacatan (persons who live with disabities) juga mendapatkan dukungan.

Semakin tampak bahwa masing-masing program dan isu semakin menguat pada persoalan advokasi, mainstreaming dan kebutuhan akan pendekatan berbasis HAM semakin menguat. Kegiatan yang berdurasi selama 2 bulan ini memperkuat basis kebutuhan akan penguatan lembaga dalam RBA (Rights-based Approach) dan RBP (Rights-based Programming).

Secara ringkas berikut TORnya

APiH – Organisational Development

Activity 1.3.1 Proposal Writing for APiH Partners Workshop

Background:
The Aceh Partnerships in Health (APiH) is a health program facility to develop the capacity of local organisations to deliver quality health services.  The facility is implemented through an association of McFarlane Burnet Institute for Medical Research and International Health (Burnet Institute), the Australian International Health Institute of the University of Melbourne (AIHI) and World Vision Australia (WVA) with funding provided by WVA.  Commencing in February 2006, and mandated to December 2008, the Facility currently focuses on HIV, Adolescent Health, Disability, Policy and Planning, Mental Health and Organisational Development (OD).

The APiH Program has identified as a key strategy the ongoing and concentrated effort around Organisational Development of its funded partners.  Organisational development activities aim to ensure effective and efficient implementation of projects by APiH partners as well as contribute to the sustainability objective of the APiH Program.

The Plan that:

  1. Participants are engaged in the assessment of needs for each activity;
  2. Expected outcomes and deliverables from engaged resources are clearly articulated;
  3. Selection criteria is in place to ensure the best available resource(s) are engaged for delivery;
  4. Activities meet the needs of the participants;
  5. Inputs are of an appropriate quality (technical content, delivery & resources);
  6. Activities are monitored and evaluated consistently; and
  7. Timing of events does not place a strain on partner organizations whilst they continue to implement APiH funded projects.

Description of Activity
The training is intended to equipped partners with proposal writing skill to enable them in writing a proposal for various reasons (submit to donor, etc…) such that when APiH closes by the end of year 2008, APiH partners are in better and stronger position to sustain.

Need for the Activity:
Based on information provided by partners, it is very clear that they are very weak in developing a proposal, and on the other hand, proposal writing skill is very important for APiH partners to have because that could mean a survival for them.

The training is also important because it will open the whole new way of thinking for partners, and they will also learn how to present their ideas in a much more organized and well structured ways.

Expected Outcomes:
At the end of the training, All Partners are expected:

  1. APiH partners understand about the importance of a proposal
  2. APiH partners understand the strategy in writing a proposal (assumption: APiH partners currently do not understand the strategy in developing a proposal)
  3. During workshop, APiH partners could develop a proposal framework and at the end of the training each APiH partner has developed at least a draft proposal. The draft will then be completed independently by each partner with supervision/assistance from the facilitator after the workshop.
  4. For the long run, APiH partners know how to seek help when they need assistance in writing a proposal for a particular purpose/donor.
  5. APiH partners know who are the potential donors.

Methodology:

  1. In the end of the training, proposals will be drafted by each partners participants. The proposal that submitted in the end of the training will be pre-evaluated by facilitators and ask suggestion from APiH.
  2. A guidance material will be provided for partners participants to enable process of assistence in developing proposal draft. The guidance material will be sent to APiH and APiH can suggest some inputs regarding different approach on proposal writing, methodology, issues, focus, etc which maybe suitable.
  3. The training will delivered by 2 facilitators through adult learning approach which will combine lecturing and discussion (20%), group discussion (30%) and workshop and exercise (50%).
  4. Pre-test (before the training start) and post-test (evaluation in the end of the training) will be launched to evaluate partners participants capacity to evaluate added value captured during the training.
  5. Every partners participants (each organization) has to submit the title of the proposal before the training (can be changed during the training).
  6. During the training there will be daily evaluation (3 times) by partners participants and at the end of the training partners participations will give evaluation and feedback to the training including evaluating the facilitators, the accomodations, the organization of the training, materials, etc.
  7. To follow up training 1 session of coaching is suggested to every partners participants at least 1 day to each partners participants. This process of coaching will take 6 days

Participants’ Background
Training participants will be

  1. MAP (HIV/AIDS Organization)
  2. Yakita (Youth Clinic)
  3. P3CA (Disability organization)
  4. Mental Health DHO Bireun
  5. Mental Health DHO Pidie
  6. Adolescent Health DHO Bireun

All participants will be represented by Director, Finance Manager, Project Manager and Field Staffs.

Pelaksanaan

  1. Pelatihan Lokatulis 11-13 Agustus 2008
  2. Pendampingan/Coaching MAP, September 2008
  3. Pendampingan/Coaching YAKITA, September 2008
  4. Pendampingan/CoachingYP3CA, September 2008
  5. Pendampingan/Coaching Dinkes/PHO Bireuen, September 2008
  6. Pendampingan/Coaching secara online Dinkes/PHO Pidie, October 2008

Kegiatan ini menginisiasi mengo… juga

Young Changemakers Initiative

Ashoka meyakini bahwa setiap orang adalah pembawa perubahan. Peran kaum muda dalam proses perubahan sosial merupakan salah satu komponen penting yang tidak dapat diabaikan. Sejak tahun 2005 Ashoka Indonesia mengembangkan program Young Social Entrepreneurship (YSE) yang bertujuan untuk mendorong lahirnya lebih banyak pembaharu muda.

Ashoka telah menyusun ulang konsep dan isi/modul dari program YSE (kini disebut sebagai Young Changemakers). Konsep dan modul Young Changemakers dibuat lebih sederhana, inspiratif, aplikatif, dan mudah untuk direplikasi di berbagai tempat. Dengan demikian inisiatif Young Changemakers dapat diadopsi di berbagai wilayah baik oleh alumni pelatihan, fellow dan organisasi fellow, institusi pendidikan, ataupun organisasi lainnya.

Melalui prakarsa ini diharapkan muncul bibit-bibit pembaharu sosial di tingkatan lokal. Para pembaharu muda yang akan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitarnya. Untuk mewujudkan gerakan pembaharu muda yang lebih besar, tentu diperlukan dukungan dari berbagai kelompok masyarakat.

Tujuan

Program ini bertujuan untuk :

  1. Menginspirasi peserta untuk menjadi pembaharu muda.
  2. Membantu peserta untuk mempersiapkan langkah-langkah untuk mewujudkan inisiatif terkait social venture yang dimilikinya
  3. Mendorong peserta untuk membangun lebih banyak komunitas Young Changemakers di daerahnya.

Alur Program

  1. Pelatihan Young Changemakers. Diselenggarakan di kota masing-masing oleh Panitia Lokal dan Ashoka Indonesia selama 2 (dua) hari.
  2. Pengiriman Aplikasi (Pertengahan Agustus). Mengirimkan aplikasi mengenai ’social venture’ ke Ashoka Indonesia
  3. Implementasi (Agustus-November). Mengimplementasikan ’social venture’ dalam rentang waktu yang ditentukan
  4. Pelaporan (Akhir November). Memberikan laporan kepada Ashoka Indonesia mengenai perkembangan ’social venture’ dalam bentuk narasi dan dokumentasi visual.
  5. Seleksi Panel (Pertengahan November). Berkesempatan mengikuti seleksi panel yang diselenggarakan Ashoka Indonesia
  6. Komunitas Young Changemakers (Pertengahan November). Bergabung dalam komunitas Young Changemakers global

Peserta dan Kriteria Peserta :

Pelatihan akan diikuti oleh 20 kaum muda yang memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Sudah memiliki komunitas
  • Memiliki empati dan minat terhadap sektor sosial
  • Sudah/akan memulai ‘social venture
  • Bersedia membagikan pengalaman menjadi ‘Young Changemakers’ kepada komunitas di sekitarnya
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
  • Open minded (terbuka)
  • Rentang usia mulai dari usia SMP hingga setara Mahasiswa

Tempat dan Waktu :

Pelatihan Young Changemakers ini akan dilaksanakan di 5 kota di Indonesia: Medan, Jambi, Bali, Mataram dan Makasar.

Untuk waktu pelaksanaan pelatihan akan diselenggarakan pada bulan Juli-Agustus 2008.

Learning point this month (06/2008)

Bulan Juni 2008 cukup luar biasa. Pertama, mencoba menuai harapan bersama teman-teman CENTRALS Aceh, sebuah upaya yang tidak mustahil tetapi ada semacam “psychological barriers” yang bisa diabaikan selama kontribusi nyata dan voluntaris, semacam semangat siap rugi.

Kemudian kedua, dengan kawan-kawan HI-UMCOR yang menggalang kesepakatan agar proses dicapai secara optimal, dalam kerjasama mereka, yang sebelumnya saya terlibat dan mensukseskannya.

Kemudian ketiga, posisi dosen di AKFIS “Harapan Bangsa”, yang selama satu semester kurang “smooth” tapi basicly… lancar, dan semester ini telah berakhir dengan standar yang baik.

Di GRM International, harus mendaftar lagi, dan di ASPBAE belum ada kabar lanjutan, mungkin harus dikontak ulang. Tidak perlu dihitung tapi cukup dicatat.

Keempat, bersama Rahman mendampingi Flower Aceh membuat buku dan mencoba menginisiasi “pangkalan” di depan Hotel Hermes Palace, Banda Aceh. Ada sejumput harapan bersama pangkalan baru ini.

Kelima, menyiangi Kampoeng Atjeh dan HRDC agar berbiak menjadi semacam stasion pemancar yang dapat dilihat dari kejauhan Jawa.

Hutangku pada TAMMI dan KOSMA untuk membawa mereka pada perubahan. TAMMI yang muda dan bergairah, KOSMA seniman yang mencoba mengasah diri dalam perjalanan.

Semuanya masih berada dalam ketidakpastian. Semuanya masih berada di alam kemungkinan. Mengubah yang tidak pasti menjadi mungkin dan saatnya kemungkinan diwujudkan dalam gairah kehidupan yang nyata dan tersentuh.